Berani bukan berarti tidak ada rasa takut

Terkadang saya bertanya-tanya bagaimana beberapa orang bisa begitu berani dalam segala hal yang mereka lakukan. Mereka punya kepercayaan diri. Mereka menghadapi apa pun yang datang menghampiri mereka. Seolah-olah mereka memang diciptakan berani sejak awal.
Dan ketika Anda melihat orang seperti itu, mudah untuk merasa bahwa Anda tidak diciptakan dengan cara yang sama. Karena Anda memang merasakan ketakutan. Anda merasakannya dalam situasi tertentu, dan Anda tidak bisa menyembunyikannya.
Anda tahu perasaan itu. Bagian kolam yang dalam saat pertama kali seseorang menyuruh Anda berenang. Berjalan memasuki ruangan yang penuh dengan orang asing di hari pertama Anda di sekolah baru. Panggilan telepon pertama dalam bahasa yang masih Anda pelajari, di mana setiap kata adalah perjuangan. Dan yang paling besar — berdiri untuk berbicara di depan ratusan orang, dengan suara yang gemetar pada kata pertama. Saat itu terjadi, rasanya mustahil, dan setelahnya, ketakutan itu membuat Anda tidak ingin melakukannya lagi.
Saya pernah memiliki seorang pemimpin tim yang tampak persis seperti salah satu orang yang “diciptakan berani” itu. Dia memiliki energi yang jauh lebih besar daripada orang lain. Jadi, saya mulai mengarang cerita tentang dirinya: pria ini memang diciptakan berbeda. Dia sama sekali tidak merasakan takut.
Lalu saya mendapat kesempatan untuk menguji cerita itu.
Ada suatu hari di mana dia akan memberikan pidato di depan ratusan orang. Saya pergi menemuinya di ruang belakang sebelum dia naik ke panggung, dan saya bertanya bagaimana perasaannya. Dia memberi tahu saya bahwa dia gugup. Hal itu mengejutkan saya, karena dari luar dia tampak baik-baik saja. Sangat baik, sebenarnya.
Kemudian saya menjabat tangannya. Dan tangannya dingin. Dingin sekali.
Saat itulah segalanya berubah bagi saya. Dia memang takut. Dia merasakan setiap bagian dari ketakutan itu. Dia hanya menghadapinya begitu saja. Dan entah bagaimana, hal itu membuat apa yang dia lakukan menjadi jauh lebih mengesankan daripada jika dia tidak merasakan apa-apa sama sekali.
Saya belajar sesuatu hari itu.
Ketakutan itu normal. Itu adalah apa yang Anda rasakan saat menghadapi situasi yang tidak Anda kenal, dan tidak ada yang salah dengan merasakannya. Anda tidak perlu menghilangkannya. Anda hanya perlu menghadapinya.
Berani bukanlah ketiadaan rasa takut. Berani adalah merasakan ketakutan itu dan tetap melaluinya.
Dan inilah bagian yang membuat saya terus maju. Anda tidak perlu menjadi berani selamanya. Anda hanya perlu menjadi berani selama beberapa detik yang dibutuhkan untuk memulai. Ucapkan kata pertama. Kirim pesan itu. Berjalanlah masuk ke dalam ruangan. Begitu Anda bergerak, bagian tersulit sudah ada di belakang Anda.
Dan ketakutan itu tidak tetap berukuran sama. Coba ingat kembali hal-hal tadi. Bagian kolam dalam yang dulu membuat Anda ketakutan? Sekarang Anda melompat ke dalamnya tanpa berpikir dua kali. Sekolah baru yang penuh orang asing itu? Sebulan kemudian, itu hanyalah sekolah Anda. Panggilan telepon yang membuat Anda berkeringat di setiap kata? Suatu hari Anda lupa bahwa Anda pernah merasa takut. Kali pertama selalu terasa besar. Pada kali kesepuluh, Anda hampir tidak memikirkannya. Ketakutan bekerja dengan cara yang sama. Setelah Anda melewati situasi yang sama sekali atau dua kali, ketakutan itu mulai menyusut. Anda tidak merasakannya sebanyak dulu. Terkadang Anda hampir tidak merasakannya sama sekali. Berbicara di depan umum yang membuat suara Anda gemetar menjadi sekadar hari biasa. Bukan karena ketakutan itu menghilang, tetapi karena Anda terus hadir sampai ketakutan itu kehabisan hal untuk mengancam Anda.
Jadi, lain kali suara Anda gemetar, jangan anggap itu sebagai tanda untuk berhenti. Anggap itu sebagai tanda bahwa Anda sedang melakukan sesuatu yang penting, sesuatu yang baru. Gemetarlah, dan tetap lakukan. Lewati saja beberapa detik pertama. Hanya itulah arti keberanian selama ini.