Filsafat Self-Improvement

Anak Enam Tahun Itu Benar

8 menit baca
Anak kecil berdiri di atas kursi.
Anak kecil berdiri di atas kursi.

Tanyakan pada anak berusia enam tahun apa cita-cita mereka saat besar nanti. Perhatikan apa yang terjadi. Tanpa ragu, tanpa rasa malu. “Astronot.” “Pemain sepak bola.” “Orang yang menciptakan mobil terbang.” Mereka akan berdiri di atas kursi untuk memberitahumu, dengan tangan terentang, sangat yakin. Tidak terlintas di benak mereka untuk bertanya apakah itu realistis. Mereka menginginkan bulan, maka mereka menginginkan bulan.

Sekarang, tanyakan pertanyaan yang sama kepada orang dewasa. Perhatikan apa yang terjadi. Jeda sejenak. Tawa kecil, jenis tawa yang digunakan orang untuk mengulur waktu. Lalu, jawaban yang penuh kehati-hatian. “Entahlah, yang stabil saja.” “Apa pun yang bisa menghasilkan uang.” “Dulu saya ingin bermusik, tapi ya kamu tahu sendiri bagaimana keadaannya.”

Pertanyaan yang sama. Dua orang yang benar-benar berbeda. Dan inilah hal yang membuat saya terpikir — mereka sering kali adalah orang yang sama, hanya terpaut dua puluh tahun.

Jadi, apa yang terjadi di antaranya?

Bukan kamu yang mematikan mimpi itu. Masyarakatlah yang melakukannya.

Mudah untuk berpikir bahwa mimpi-mimpi besar memudar dengan sendirinya, seperti gigi susu yang tanggal. Bagian alami dari tumbuh dewasa. Namun, saya rasa bukan itu yang terjadi. Tidak ada orang yang bangun suatu pagi dan memutuskan, atas kemauannya sendiri, untuk menginginkan hal yang lebih sedikit.

Kenyataannya lebih sunyi, dan sedikit lebih menyedihkan. Kamu “dikoreksi”. Secara halus, biasanya oleh orang-orang yang menyayangimu. Kamu bilang ingin menjadi seniman dan seseorang bertanya bagaimana kamu akan mencari uang. Kamu bilang ingin membangun sesuatu milikmu sendiri dan seseorang mengingatkanmu betapa banyak usaha seperti itu yang gagal. Kamu mengutarakan hal besar itu saat makan malam dan suasana meja menjadi hening seketika. Setiap tanggapan terasa masuk akal. Benar-benar masuk akal. Dan justru itulah mengapa cara ini berhasil — rasanya tidak pernah seperti ada orang yang merampas sesuatu darimu. Rasanya seperti dunia sedang mengajarimu bagaimana keadaan sebenarnya.

Dan saya rasa kamu tidak bisa menyalahkan orang-orang yang mengatakan hal ini. Orang tuamu, gurumu, teman-temanmu — mereka tidak mencoba mencuri apa pun darimu. Mereka hanya meneruskan apa yang diteruskan kepada mereka: berhati-hatilah, bersikaplah realistis, jangan terlalu berharap tinggi. Mereka pun dulunya adalah anak-anak di atas kursi, dan seseorang mengajari mereka untuk turun. Apa yang menciutkan mimpi bukanlah satu orang tertentu. Itu adalah masyarakat — atmosfer sunyi yang menyelimuti kita semua saat tumbuh dewasa, diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya, kita masing-masing mengembuskannya ke generasi selanjutnya tanpa bermaksud jahat.

Itulah bagian yang ingin saya perjelas. Suara yang menyuruhmu menciutkan mimpi hampir tidak pernah dimulai sebagai suaramu sendiri. Itu adalah air tempat semua orang di sekitarmu berenang. Sedikit demi sedikit, “apa yang aku inginkan?” digantikan oleh “apa yang realistis?” — dan suatu hari kamu menyadari bahwa kamu mengatakannya pada dirimu sendiri, dengan suara yang tidak lagi kamu kenali sebagai suara pinjaman.

Sebuah cerita lama tentang hal yang sama

Ada alur pemikiran mengenai hal ini dalam The Alchemist, buku kecil karya Paulo Coelho tentang seorang gembala yang terus memimpikan harta karun yang menantinya di tempat jauh, dan harus memutuskan apakah akan benar-benar mengejarnya atau tetap berada di tempat yang aman. Yang selalu melekat di ingatan saya bukanlah harta karunnya. Melainkan gagasan yang mendasarinya — Coelho menyebutnya “Personal Legend” (Takdir Pribadi), hal yang sejak lahir diam-diam ingin kamu lakukan. Sebagai anak-anak, kita mengetahuinya dengan jelas. Kemudian, seiring kita tumbuh, semacam tekanan tak kasat mata perlahan meyakinkan kita bahwa hal itu kekanak-kanakan, mustahil, dan bukan untuk orang seperti kita.

Buku itu menyebutnya sebagai kebohongan terbesar di dunia: bahwa pada titik tertentu kita kehilangan hak untuk mengarahkan hidup kita sendiri, dan hanya menerima apa yang diberikan kepada kita. Dan alasan mengapa hal ini begitu mengena bagi banyak orang adalah karena ini sebenarnya bukan tentang harta karun atau gembala. Ini tentang momen tepat saat kamu pertama kali mendengar kata “bersikaplah realistis” dan mempercayainya.

Realistis sering kali hanyalah ketakutan yang memakai pakaian lebih rapi

Inilah hal yang butuh waktu lama untuk saya sadari. Begitu suara luar itu menjadi suara dalam dirimu, kamu berhenti menyadari keberadaannya. Kamu hanya menyebutnya sebagai sikap bijak.

Namun, sering kali, ketika saya melabeli sebuah mimpi sebagai “tidak realistis”, saya tidak sedang berhitung. Saya tidak sedang menimbang peluang. Saya takut — takut terlihat bodoh, takut berusaha keras lalu gagal, takut akan raut wajah seseorang saat saya mengutarakan hal besar itu dengan lantang. “Realistis” hanyalah kata yang membuat ketakutan terdengar seperti kebijaksanaan. Kata itu membiarkan saya berhenti sebelum memulai dan tetap merasa dewasa karenanya.

Anak di atas kursi itu belum memiliki kata tersebut. Itulah keunggulan mereka. Mereka belum belajar untuk merasa malu karena menginginkan sesuatu yang besar, atau menyadari bahwa orang mungkin akan menertawakan mereka. Jadi, mereka mengatakannya begitu saja. Ada sesuatu yang hampir tak tertahankan tentang betapa bebasnya hal itu, setelah kamu lupa bagaimana cara melakukannya.

Terkadang mimpi memang tidak bisa terwujud — dan bukan itu intinya

Saya ingin jujur di sini, karena saya tidak berpikir setiap mimpi adalah tiket pesawat yang bisa membawa kita pergi. Hidup itu nyata. Uang itu nyata. Beberapa pintu tertutup karena alasan yang tidak ada hubungannya dengan ketakutan — di mana kamu dilahirkan, siapa yang bergantung padamu, tubuh yang tidak bisa melakukan apa yang kamu minta, waktu yang memang belum berpihak padamu. Tidak semua anak yang menginginkan bulan bisa pergi ke sana, dan berpura-pura sebaliknya adalah kebohongan tersendiri.

Namun, menjaga mimpi tetap hidup sebenarnya bukan tentang mencapai hal yang persis sama. Ini tentang menolak membiarkan keinginan itu mati. Anugerah anak berusia enam tahun bukanlah bahwa mereka pasti akan menjadi astronot. Melainkan semangatnya — keterbukaan, keberanian, cara mereka condong ke arah dunia alih-alih menjauh darinya. Kamu bisa kehilangan mimpi spesifik itu dan tetap mempertahankan semangat tersebut. Dan sejujurnya, semangat itulah yang layak dilindungi. Semangat itu akan mencarikanmu mimpi baru jika yang pertama tidak bisa terwujud. Keadaan bisa mengambil tujuanmu. Mereka tidak bisa mengambil cara kamu menghadapi jalan tersebut, kecuali jika kamu menyerahkannya.

Mimpi itu tidak pergi. Ia menunggu.

Inilah bagian yang benar-benar saya yakini, dan itulah alasan saya ingin menulis ini.

Mimpi yang membuatmu menyerah itu tidak menghilang. Ia hanya menjadi sunyi. Kamu merasakannya di saat-saat aneh — sebuah film dokumenter tentang seseorang yang melakukan hal yang pernah kamu inginkan, dan rasa sakit kecil muncul entah dari mana. Seseorang seusiamu yang mengejarnya, dan alih-alih merasa ikut bahagia, kamu justru merasakan sesuatu yang lebih tajam. Rasa sakit itu tidak acak. Itu adalah mimpi lama, masih di sana, mengetuk-ngetuk kaca.

Kebanyakan orang menghabiskan banyak energi untuk menjelaskan perasaan itu. Sudah terlambat. Saya sudah terlalu tua. Saya punya tanggung jawab sekarang. Semua itu mungkin benar. Namun perhatikan: tidak satu pun dari alasan itu membuat rasa sakitnya hilang. Kamu tidak perlu berdebat sekeras itu dengan sesuatu yang sudah benar-benar mati. Kamu hanya berdebat seperti itu dengan sesuatu yang masih hidup.

Ada sebuah lagu yang terus saya dengarkan — 你曾是少年 oleh S.H.E, “kamu pernah menjadi remaja.” Saya pertama kali mendengarnya saat bepergian melalui Tiongkok, dan lagu itu melekat pada saya lama setelah perjalanan berakhir. Itu adalah lagu kecil yang manis dan menyayat hati tentang hal ini: sosok yang bermata lebar dan sedikit naif yang dulu adalah dirimu, seseorang yang percaya bahwa dunia ada dalam jangkauannya, sebelum hidup mengikis sudut-sudut tajamnya. Setiap kali saya mendengarnya, rasanya bukan seperti orang asing. Rasanya seperti seseorang yang dulu adalah diri saya, masih di sana, bertanya apakah saya masih mengingatnya.

Kamu diizinkan untuk menginginkannya lagi

Saya tidak akan menyuruhmu berhenti dari segalanya dan mengejar bulan besok. Bukan itu intinya, dan biasanya itu bukan jawabannya.

Intinya lebih kecil dan lebih sulit. Ini tentang membiarkan dirimu menginginkan hal itu lagi, dengan lantang, tanpa langsung meraih kata “realistis” untuk menciutkannya kembali. Cukup dengan menamainya. “Saya masih ingin membuat sesuatu.” “Saya masih ingin membangun sesuatu milik saya sendiri.” “Saya tidak pernah berhenti ingin menulis.” Kamu akan terkejut betapa lamanya sejak beberapa orang membiarkan diri mereka menyelesaikan kalimat itu.

Dan itu membutuhkan keberanian yang aneh — bukan jenis keberanian yang besar dan dramatis, melainkan jenis yang sunyi. Keberanian untuk mengatakan hal yang kekanak-kanakan dan berlebihan tanpa menertawakannya terlebih dahulu. Untuk duduk bersama keinginan tersebut dan tidak membela diri darinya. Itulah otot yang melemah saat kamu sibuk bersikap realistis.

Jadi, temukanlah seorang anak berusia enam tahun — yang asli, atau sosok yang dulu adalah dirimu — dan tanyakan apa cita-cita mereka saat besar nanti. Dengarkan bagaimana mereka menjawab. Tanpa jeda. Tanpa permintaan maaf. Hanya bulan, karena mereka menginginkan bulan.

Kamu pernah menjadi orang itu. Dunia menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk mengajarimu menginginkan hal yang lebih kecil, dan mungkin beberapa pintu memang benar-benar tertutup. Namun, semangat yang berdiri di atas kursi dengan tangan terentang itu tidak pernah menjadi milik dunia untuk diambil. Semangat itu masih di sana. Ia hanya menunggu, dengan tenang, agar kamu berhenti menyebutnya tidak realistis dan mulai menyebutnya sebagai milikmu lagi.